Sabtu, 29 September 2012

Sistem Integrasi Ternak dengan Tanaman


A.    Pengertian 
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau Integrated Corp Management  (ICM) adalah upaya untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan dengan memperhatikan sumber daya yang tersedia serta kemauan dan kemampuan petani (Irawan, 2008).  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan system budidaya tanaman dan pengendalian hama penyakit yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi yang optimal serta terjaminnya keseimbangan agroekosistem yang berkelanjutan (Iskandar, 2008). Sedangkan, Pengolahan ternak terpadu untuk peternakan dan/atau sistem/pola pertanian terpadu dimana ada hubungan timbal-balik antara pertanian dan peternakan.
Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT) adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara terpadu dengan komponen ternak sebagai bagian kegiatan usaha. Tujuan pengembangan SITT adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian untuk mewujudkan suksesnya revitalisasi pembangunan pertanian. Komponen usahatani SITT meliputi usaha ternak sapi potong, tanaman pangan (padi & palawija), hortikultura (sayuran), perkebunan, (tebu) dan perikanan (lele, gurami, nila). Limbah ternak (kotoran sapi) diproses menjadi kompos & pupuk organik granuler serta biogas; limbah pertanian (jerami padi, batang & daun jagung, pucuk tebu, jerami kedelai dan kacang tanah) diproses menjadi pakan. Gas-bio dimanfaatkan untuk keperluan memasak, sedangkan limbah biogas (sludge) yang berupa padatan dimanfaatkan menjadi kompos dan bahan campuran pakan sapi & ikan, dan yang berupa cairan dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk tanaman sayuran dan ikan (Hardianto, 2008).
B.     Konsep dan Keunggulan Sistem Integrasi Tanaman Ternak
Ciri utama integrasi tanaman ternak adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanamannya, kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak (Reijntjes et al., 1999 dalam Ismail dan Andi Djayanegara, 2004).
Pada model integrasi tanaman ternak, petani mengatasi permasalahan keterediaan pakan dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti jerami padi, jerami jagung, limbah kacang-kacang, dan limbah pertanian lainnya. Kelebihan dari adanya pemanfaatan limbah adalah disamping mampu meningkatkan “ketahanan pakan” khususnya pada musim kemarau, juga mampu menghemat tenaga kerja dalam kegiatan mencari rumput, sehingga memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan jumlah skala pemeliharaan ternak.
Pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik disamping mampu menghemat penggunaan pupuk anorganik, juga sekaligus mampu memperbaiki struktur dan ketersediaan unsur hara tanah. Dampak ini terlihat dengan meningkatnya produktivitas lahan. Hasil kajian Adnyana, et al. (2003) menunjukkan bahwa model CLS yang dikembangkan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25-35 persen dan meningkatkan produktivitas padi 20-29 persen.
C.    Pengelolaan Limbah Peternakan Terpadu dan Agribisnis
Pada prinsipnya pengertian terpadu disini adalah bagaimana sistem pengelolaan limbah peternakan dapat memberikan kontribusi hubungan timbal balik antara limbah sebagai bahan sisa proses/aktivitas di satu sisi dan limbah sebagai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan di sisi lain. Limbah peternakan terdiri atas sebagian besar sisa metabolisme ternak (feses, urin dsb.), sisa pakan, dan sisa segala aktivitas lain yang dilakukan pada usaha peternakan tersebut. Hampir seluruhnya berupa bahan organik, yang berdasarkan bentuknya terdiri atas padat, semi padat dan cair. Sifat ini memberi indikasi bahwa limbah peternakan merupakan sumberdaya yang sangat potensial sebagai energi dan nutrisi bagi kehidupan, baik bagi mikroorganisme, hewan, ataupun bagi tanaman, yang secara berkesinambungan saling berinteraksi satu dengan yang lain. Dari semua proses/aktivitas pengelolaan limbah peternakan akan berujung pada hasil akhir berupa pupuk organik alami, yang sangat diperlukan sebagai sarana produksi bagi usaha pertanian, baik tanaman pangan, perkebunan ataupun tanaman hias.
Dalam pengelolaan limbah peternakan harus diciptakan suatu sistem yang dapat mengubah karakteristik limbah yang selama ini menjadi beban biaya tanpa hasil menjadi beban biaya yang memberi kontribusi keuntungan. Limbah peternakan yang selama ini dibuang begitu saja harus diubah menjadi bahan yang sangat dibutuhkan sebagai sarana kegiatan baru yang menguntungkan pada usaha peternakan tersebut. Agribisnis merupakan usaha di bidang pertanian, baik pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan maupun di bidang perikanan. Di Subsektor Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan, dan tanaman hutan produksi (Sektor Kehutanan), pupuk merupakan sarana produksi utama yang harus tersedia, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kelangkaan pupuk dewasa ini merupakan masalah nasional yang mengancam kegagalan agribisnis, terutama pada program ketahanan pangan.
Berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi limbah peternakan dapat dikonversi menjadi pupuk organik, bahan bakar dan biomassa protein sel tunggal atau etanol. Konversi limbah menjadi pupuk organik akan sangat berperan dalam pemulihan daya dukung lingkungan, terutama di bidang pertanian. Limbah peternakan juga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan biomassa protein sel tunggal (PST). PST merupakan biomassa yang memiliki nilai nutrisi tinggi dan sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak, udang dan ikan. Demikian juga sebagai bahan bakar, limbah peternakan merupakan sumberdaya yang sangat potensial.
Gambar 1. Konversi Limbah Peternakan menjadi Bahan Bakar, Komoditi Tanaman, dan Komoditi Peternakan dan Perikanan (Sudiarto, 2008).
D.    Penerapan Sistem Integrasi Tanaman- Ternak
Berdasarkan potensi dan kondisi yang ada, maka teknologi yang akan diintroduksikan diarahkan  pada  penerapan  pola  Usahatani  Integrasi Tanaman-Ternak   pada  lahan sawah, antara lain :
1)   Minapadi  legowo
Nilai  tambah  dari  tanam  padi  cara  tanam  legowo  selain  keuntungan  dari  peningkatan produksi padi, juga dengan adanya lolongkrang  (ruang kosong) yang mencapai  50% dari seluruh lahan, dapat ditanam ikan yang pada gilirannya akan meningkatkan  pendapatan petani. Rerata kenaikan optimal berat ikan per hari yaitu 0,99-1,97 g/ekor/hari
2)   Penggemukan Sapi potong
Penggemukan sapi potong dengan pakan utama jerami fermentasi kering mempunyai  angka  pertumbuhan  berat  mencapai rata-rata 0,7 kg/ekor/hari.
Hal yang menarik dari pengkajian ini adalah bahwa sumber bahan pakan yang digunakan adalah  serba  limbah,  yaitu  mulai  dari   jerami  (padi  &  jagung)  sebagai   pakan  dasar  dan  pakan penguatnya terdiri dari dedak padi, tongkol jagung, dan ampas kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan.
3)   Produksi Kompos
Sapi dewasa dapat menghasilkan kotoran basah 4-5 ton/tahun. Kotoran diolah menjadi kompos,  akan  dihasilkan  2-2,5  ton  kompos/ekor sapi/tahun.  Kompos  yang  dihasilkan  dapat digunakan (dikembalikan) ke sawah atau di jual. Satu hektar sawah membutuhkan kompos 1,5-2 ton. Apabila  kompos  digunakan  sebagai  pupuk,  maka  akan  memperbaiki sifat  fisik  tanah  dan sekaligus akan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang harganya relatif mahal.
Perhitungan  secara  parsial  menunjukkan  bahwa  biaya  untuk menghasilkan  kompos adalah Rp 125,00/kg. Harga jual kompos di tingkat petani adalah Rp 250,00–Rp 300,00/kg. Harga dasar kompos pada saat ini bisa mencapai Rp 400,00 s.d. Rp 500,00/kg. Satu hektar sawah dapat menghidupi 2 ekor sapi dewasa. Kompos yang dihasilkan dari 2 ekor sapi adalah 4-5 ton/tahun. Harga jual kompos di tingkat petani dari 2 ekor sapi adalah Rp 1.500.000,00 sd. Rp 2.000.000,00. Kalau ini dapat dilaksanakan dengan baik oleh petani di pedesaan, maka akan terjadi penyerapan tenaga  kerja,   peningkatan   kesuburan   tanah,   peningkatan   produktivitas  lahan,   penurunan penggunaan  pupuk  anorganik  (buatan)  yang  pada gilirannya  akan  meningkatkan  pendapatan petani.
E.     Pola Pengembangan Usahatani Integrasi Tanaman-Ternak
Keberhasilan   usahatani   integrasi   tanaman-ternak   sifatnya   sangat kondisional,   pendekatan usahatani  integrasi  tanaman-ternak  di  suatu wilayah  akan  berbeda  dengan  wilayah  lainnya. Sebagai implementasi dalam pengembangan usahatani integrasi tanaman-ternak berbasis padi pada lahan sawah irigasi dapat ditempuh melalui dua pendekatan yaitu pendekatan “ in-situ” dan  pendekatan ”ex-situ”:
ü Pola pengembangan dengan pendekatan “in-situ”
Yang  dimaksud  dengan  pendekatan “ in-situ”  yaitu  ternak  yang diusahakan  secara  fisik berada dalam hamparan usahatani padi. Hal ini dimaksudkan agar limbah jerami padi yang akan dijadikan  pakan  ternak tidak  memerlukan  biaya  yang  tinggi  dan  tenaga  yang  banyak  dalam pengangkutannya.  Begitu  juga  kompos  hasil  fermentasi  dapat  dengan mudah  didistribusikan  ke lahan sawah. Dengan demikian akan diperoleh efisiensi yang tinggi.
ü Pola pengembangan dengan pendekatan “ex-situ”
Dalam  usahatani integrasi tanaman-ternak secara ex-situ, ternak (sapi) dipandang sebagai “pabrik” pengolah limbah pertanian,   lahan   sawah dipandang   sebagai   penyedia   utama   pakan   ternak   (jerami).   Wujud keterkaitan  antara  tanaman  dengan  ternak  terletak  pada  kompos  yang dihasilkan  oleh  ternak, kompos  ini  dikembalikan  ke  tanah  untuk perbaikan  kesuburan  tanah  baik  secara  fisik  maupun kimia.
Sasaran   pengembangan   usahatani   integrasi   tanaman-ternak   secara ex-situ adalah pemodal besar. Keuntungan yang akan diperoleh bagi pengusaha ini adalah selain dari ternaknya sendiri  juga  keuntungan  yang lebih  besar  adalah  dari  pengusahaan  kompos.  Apabila  usahatani integrasi tanaman-ternak “ ex-situ” dapat dilaksanakan maka daya dukung jerami adalah untuk 150.000-200.000 ekor sapi/tahun. Sementara kompos yang dihasilkan dari 1 ekor sapi pertahun adalah 2 ton. Jadi kompos  yang dihasilkan seluruhnya adalah 300.000 – 400.000 ton dengan penggunaan 2 ton kompos per tahun maka sekitar 150.000-200.000 ha lahan sawah dapat diperbaiki kesuburannya.

Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT) adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara terpadu dengan komponen ternak sebagai bagian kegiatan usaha. Pada prinsipnya pengertian terpadu disini adalah bagaimana sistem pengelolaan limbah peternakan dapat memberikan kontribusi hubungan timbal balik antara limbah sebagai bahan sisa proses/aktivitas di satu sisi dan limbah sebagai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan di sisi lain.Tujuan pengembangan SITT adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian untuk mewujudkan suksesnya revitalisasi pembangunan pertanian.
Ciri utama integrasi tanaman ternak adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Model CLS yang dikembangkan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25-35 persen dan meningkatkan produktivitas padi 20-29 persen.
Dalam pengelolaan limbah peternakan harus diciptakan suatu sistem yang dapat mengubah karakteristik limbah yang selama ini menjadi beban biaya tanpa hasil menjadi beban biaya yang memberi kontribusi keuntungan. Berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi limbah peternakan dapat dikonversi menjadi pupuk organik, bahan bakar dan biomassa protein sel tunggal atau etanol. Konversi limbah menjadi pupuk organik akan sangat berperan dalam pemulihan daya dukung lingkungan, terutama di bidang pertanian. Limbah peternakan juga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan biomassa protein sel tunggal (PST). PST merupakan biomassa yang memiliki nilai nutrisi tinggi dan sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak, udang dan ikan. Demikian juga sebagai bahan bakar, limbah peternakan merupakan sumberdaya yang sangat potensial.
Berdasarkan potensi dan kondisi yang ada, maka teknologi yang akan diintroduksikan diarahkan  pada  penerapan  pola  Usahatani  Integrasi Tanaman-Ternak   pada  lahan sawah, antara lain minapadi legowo, penggemukan sapi potong, produksi kompos.
Pendekatan “ in-situ”  yaitu  ternak  yang diusahakan  secara  fisik berada dalam hamparan usahatani padi. Hal ini dimaksudkan agar limbah jerami padi yang akan dijadikan  pakan  ternak tidak  memerlukan  biaya  yang  tinggi  dan tenaga  yang  banyak  dalam pengangkutannya. Dalam  usahatani integrasi tanaman-ternak secara ex-situ, ternak (sapi) dipandang sebagai “pabrik” pengolah limbah pertanian,   lahan   sawah dipandang   sebagai   penyedia   utama   pakan  ternak   (jerami).   Wujud keterkaitan  antara  tanaman  dengan  ternak  terletak pada  kompos  yang dihasilkan  oleh  ternak, kompos  ini  dikembalikan  ke  tanah untuk perbaikan  kesuburan  tanah  baik  secara  fisik  maupun kimia. Sasaran  pengembangan   usahatani   integrasi   tanaman-ternak   secara ex-situ adalah pemodal besar.

 DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, et al. 2003. Pengkajian dan Sintesis Kebijakan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Padi dan Ternak (P3T) ke Depan. Laporan Teknis Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Litbang Pertanian. Bogor.
Anonim. 2010. Sistem Usahatani Integrasi Tanaman-Ternak. http://h0404055.wordpress.com. Diakses pada 18 Maret 2012 pukul 12.21 WIB.
Hardianto, Rully. 2008. Pengembangan Teknologi Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Model Zero Waste. http://porotani.wordpress.com. Diakses pada 18 Maret 2012 pukul 12.10 WIB.
Ismail I.G dan A. Djajanegara. 2004. Kerangka Dasar Pengembangan SUT Tanaman Ternak (Draft). Proyek PPATP. Jakarta.
Sudiarto, Bambang. 2008. Pengelolaan Limbah Peternakan Terpadu dan Agribisnis yang Berwawasan Lingkungan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bandung.

1 komentar:

  1. bagus blognya gan...kunjungan balek gan yah

    http://bit.ly/U92j2v

    BalasHapus